الثلاثاء، 7 مايو، 2013

KEIMANAN


PENGERTIAN KEIMANAN
Pengertian iman dari bahasa Arab yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah, pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Dengan demikian, pengertian iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata.
“Membenarkan dengan hati” maksudnya membenarkan segala apa yang datang dari Allah SWT yang dibawa oleh Rasulullah SAW, serta menerimanya dengan ikhlas. ”Diucapkan dengan lisan” maksudnya mengucapkan dua kalimat syahadat ”AsyhaduaLLaa ilaha illallah waashaduanna  Muhammad Rasulullah” (Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah SWT dan bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah), serta mengamalkan konsekuensi nya.  ”Diamalkan dengan tindakan (perbutan)”maksudnya hati mengamalkan dalam bentuk keyakinan, lisan mengamalkan dalam bentuk perkataan, sedangkan anggota badan mengamalkannya dalam bentuk ibadah-ibadah sesuai dengan fungsinya.
Amalan – amalan hati mencakup 24 perkara yang berisikan keyakinan (aqidah) dan niat. Diantara nya  adalah Rukun Iman yang enam, Mencintai Allah, Taubat, Syukur, Tawakal, Tidak suka marah, tidak dengki, Ikhlas dan seterus nya.
Amalan – Amalan lisan mencakup 7 perkara yaitu Melafazhkan kalimat tauhid, Membaca al-Quran, Mempelajari Ilmu Agama, Mengajarkan Ilmu Agama, Doa, Dzikir, Menjauhi perkataan sia-sia.

      Amalan – amalan anggota badan mencakup 38 perkara yaitu 15 perkara yang berhubungan dengan diri, seperti Shalat, Zakat, Bersuci, Menutup Aurat, Memerdekakan budak, Puasa, Haji dan seterus nya.
 6 perkara yang berhubungan dengan orang yang dicintai, seperti mendidik anak, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi dan seterusnya.
17 perkara yang berhubungan dengan masyarakat, seperti mentaati ulil amri (ulama dan pemerintah), menjawab salam, mendoakan orang yang bersin, menyingkirkan gangguan dari jalan.

Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna apabila memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan. Firman Allah SWT:

“Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.” (Q.S. An Nisa : 136)
Ayat di atas memberikan penjelasan bahwa Bila kita ingkar kepada Allah, maka akan mengalami kesesatan yang nyata. Orang yang sesat tidak akan merasakan kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu, beriman kepada Allah sesungguhnya adalah untuk kebaikan manusia.
Salah satu makhluk Allah swt. yang diciptakan di alam ini adalah malaikat. Dia bersifat gaib bagi manusia, karena tidak dapat dilihat ataupun disentuh dengan panca indra manusia.Sebagai muslim kita diwajibkan beriman kepada malaikat. Iman kepada malaikat tersebut termasuk rukun iman yang kedua. Apa yang dimaksud iman kepada malaikat? Iman kepada malaikat berarti meyakini dan membenarkan dengan sepenuh hati bahwa Allah telah menciptakan malaikat yang diutus untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu dari Allah.
Dasar yang menjelaskan adanya makhluk malaikat tercantum dalam ayat berikut ini yang artinya:


“Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat.” (Q.S. Fatir: 1)
Selanjut nya meyakini dengan sebenarnya bahwa Allah memiliki kitab-kitab yangditurunkan-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya, yang benar-benar merupakan kalam (firman,ucapan)-Nya. Ia adalah cahaya dan petunjuk. Apa yang dikandungnya adalah benar. Kitap-kitap yng diturunkan Allah SWT Antara lain Taurat,Injil, Zabur, dan Al-Qur’an. Selain wajib mengimani bahwa Al-Qur’an diturunkan dari sisi Allah,wajib pula mengimani bahwa Allah telah mengucapkannya sebagaimana Dia telah mengucapkan seluruh kitab lain yang diturunkan. Wajib pula melaksanakan berbagai perintah dan kewajiban serta menjauhi berbagai larangan yang terdapat didalam  Al-Qur’an.  Al-Qur’an merupakan tolak ukur kebenaran kitab-kitab terdahulu. Hanya Al-Qur’anlah yang dijaga oleh Allah dari pergantian dan perubahan kitap-kitap yang lain.


 Kemudian kita Harus beriman Kepada rasul-rasul Allah, keyakinan yang kuat bahwa Allah telah mengutus para rasul untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya.
kepada siapa di antara mereka yang disebut namanya oleh Allah, yaitu 25 diantara mereka yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Wajibpula beriman bahwa Allah telah mengutus rasul-rasul dan nabi-nabi selain mereka, yang jumlahnya tidak diketahui oleh selain Allah, dan tidak ada yang mengetahui nama-nama mereka selain Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Wajib pula beriman bahwa Muhammad SAW adalah yang paling mulia dan penutup para nabi dan rasul,risalahnya meliputi bangsa jin dan manusia, serta tidak ada nabi setelahnya.

Iman kepada kebangkitan setelah mati adalah keyakinan yang kuat tentang adanya negeri akhirat. Di negeri itu Allah akan membalas kebaikan orang-orang yang berbuat baik dan orang-orang yang berbuat jahat. Allah mengampuni dosa apapun selain syirik, jika Dia menghendaki. (kebangkitan) adalah dipulihkannya badan dan dimasukkannya kembali nyawa ke dalamnya, sehingga manusia keluar dari kubur seperti belalang-belalang yang bertebaran dalam keadaan hidup dan bersegera mendatangi penyeru.Kita memohon ampunan dan kesejahteraan kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat.

            Iman kepada takdir adalah meyakini secara sungguh-sungguh bahwa segala kebaikan dan keburukan itu terjadi karena takdir Allah. Allah ta’ala telah mengetahui kadar dan waktu terjadinya segala sesuatu, sebelum menciptakan dan mengadakannya dengan kekuasaan dan kehendak-Nya, sesuai dengan apa yang telah diketahui-Nya. sebelum menciptakannya.Banyak sekali dalil mengenai rukun iman, baik dari segi Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

Namun apa yang menyebabkan iman seseorang itu bisa bertambah ataupun berkurang.  
Ada beberapa sebab, di antaranya:

Sebab Iman seseorang bisa bertambah

 Mengenal Allah (Ma’rifatullah) dengan nama-nama (asma’) dan sifat-sifat-Nya. Setiap kali marifatullahnya seseorang itu bertambah, maka tak diragukan lagi imannya akan bertambah pula. Oleh karena itu para ahli ilmu yang mengetahui benar-benar tentang asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya lebih kuat imannya dari pada yang lain.
 Memperlihatkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)Allah,  Allah Ta’ala berfirman.
وَفِي الأرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلا تُبْصِرُ
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan” (Adz-Dzariyat : 20-21).
Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa jika manusia mau memperhatikan dan merenungkan alam ini, maka imannya akan semakin bertambah.
 Banyak melaksanakan ketaatan. Seseorang yang mau menambah ketaatannya, maka akan bertambah pula imannya, apakah ketaatan itu berupa qauliyah maupun fi’liyah. Berdzikir umpamanya akan menambah keimanan seseorang. Demikian juga shalat, puasa dan haji akan menambah keimanan secara kuantitas maupun kualitas.
 Sebab iman seseorang bis berkurang
 Jahil terhadap asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya. Ini akan menyebabkan berkurangnya iman. Karena, apabila mari’fatullah seseorang tentang asma’ dan sifat-sifat-Nya itu berkurang, tentu akan berkurang juga imannya.
 Berpaling dari tafakkur mengenai ayat-ayat Allah yang kauniyah maupun syar’iyah. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya iman, atau paling tidak membuat keimanan seseorang menjadi statis tidak pernah berkembang.
 Berbuat maksiat. Kemaksiatan memiliki pengaruh yang besar terhadap hati dan keimanan seseorang. Oleh karena itu Rasulullah SAW pernah bersabda : “Tidaklah seseorang itu berbuat zina ketika melakukannnya sedang ia dalam keadaan beriman”. (Al-Hadits)
Meninggalkan ketaatan. Meninggalkan keta’atan akan menyebabkan berkurangnya keimanan. Jika ketaatan itu berupa kewajiban lalu ditinggalkannya tanpa udzur, maka iman seseorang akan berkurang.

 MACAM- MACAM TINGKATAN KEIMANAN
Tingkat keimanan kita sesungguhnya dapat kita ukur sendiri. Caranya ada berbagai macam metode, salah satunya yang akan kita bahas disini adalah dengan melihat motivasi kita dalam beribadah. Ada berbagai macam alasan yang memotivasi kita dalam beribadah yaitu.

Kewajiban.
Motivasi ini merupakan motivasi yg paling dasar. Motivasi kewajiban ini pun dapat dibagi menjadi  yaitu kewajiban akan status, dan takut akan dosa. Kewajiban akan status akan memotivasi orang tersebut untuk memilih suatu agama dan beribadah hanya untuk memenuhi statusnya, sedangkan takut akan dosa lebih memacu orang tersebut untuk (hanya) beribadah untuk menggugurkan kewajibannya tersebut (tanpa mempedulikan kualitas ibadah, hanya kuantitas ibadah).

 Kebutuhan.
Dalam tingkatan ini, manusia akan lebih meningkatkan kualitas ibadahnya hanya bedasarkan jika sedang butuh saja (ya walau terkadang ada orang yang hanya shalat jika ada butuhnya saja). Mengapa tingkatan ini lebih tinggi dari pada tingkatan yang pertama tadi? Hal ini di karenakan oleh faktor kualitas dari ibadah yang dilakukan oleh orang tersebut (jika kita sedang butu dengan sebaik baiknya).

 Rasa syukur / terima kasih atas nikmat dan karunia yang telah ALLAH berikan.
Ini adalah motivasi terbesar yang paling sering kita temukan. Ibadah atas motivasi ini tentu di laksanakan atas rasa syukur setelah diberi nikmat oleh ALLAH.

 Atas dasar rasa cinta kepada Allah SWT.
 Motivasi ini merupakan motivasi tertinggi. Dalam motivasi ini kita merasa, walau sering kita melupakan nikmat ALLAH (terutama ketika kita tidur), ALLAH tetap senantiasa menjaga kita, melindungi kita (dan tetap menjaga jantung kita berdetak ketika tidur, otot usus kita bekerja walau kita terlelap). Bayangkan apabila ketika kita melupakan ALLAH dan ALLAH pun melupakan kita. Ya, tanpa disadari, kita merupakan makhluk yang memang dibuat untuk senantiasa lupa (terutama akan kodrat tujuan penciptaan kita yaitu beribadah).

Keimanan dapat diibaratkan sebatang pohon yang memerlukan siraman pupuk dan penjagaan dari hama. Siraman iman ialah nasihat-nasihat agama, pupuknya adalah ibadah, dan hamanya yaitu segala perbuatan dosa. Hama atau perusak iman dapat berasal dari dirinya sendiri (intern) dan dari luar atau pengaruh lingkungan (ekstern). 

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق